Hilangnya keberkahan dari pesantren

Hilangnya keberkahan dari pesantren

Pulang

 

Begitu merugi kehilangan berkah dari pesantren. Terlebih dalam menjalani kehidupan dunia. Jauh dari kyai dan guru-guru menjadikan hati menjadi lemah dan gampang terluka.

Keberkahan yang hadir dari pesantren memang tidaklah berbentuk materi, melainkan kemudahan dalam setiap urusan. Bagaimana setiap hal itu terasa lebih ringan dan mudah rasanya. Tidak ada kesulitan yang menjadikan hati sakit, pikiran berat dan lainnya. Rezeki yang dimudahkan juga salah satunya.

Ilmu yang bermanfaat juga merupakan sebuah keberkahan dari Allah lewat perantara pesantren.

Tapi sayang, belum cukup tiga bulan, aku sudah tidak berada di pesantren lagi. Alasan yang paling mendasari mengapa ini terjadi adalah kesepian. Teman dekatku tidak kembali lagi dari rumahnya. Padahal kami baru saja berteman selama satu bulan lebih.

Di saat kita kesepian hati cenderung lebih rapuh dan lebih sensitif dari biasanya. Tanpa orang lain seorang manusia tidak akan bisa hidup dengan baik.

Temanku hanya ada sedikit dan itu aku dapatkan dari inisiatif mereka bukan inisiatifku sendiri. Aku hanya menunggu bola yang datang dan menangkapnya. Malu untuk berkenalan dengan orang lain karena takut di anggap aneh. Juga enggan untuk memulai permbicaraan terlebih dahulu.

Aku sering sekali tenggelam dalam persepsiku sendiri. Aku berpikir bahwa orang lain pasti tidak menyukaiku, aku tidak pantas berteman dengan mereka, mereka punya dunia yang berbeda denganku. Semua hal yang tidak penting terngiang di kepalaku yang pada nyatanya itu hanyalah anggapanku saja.

Selama di pesantren aku hanya mempunyai lima orang teman saja. tiga dari mereka adalah anak-anak yang sedikit nakal, dalam artian ada beberapa aturan yang tidak mereka indahkan.

Tetapi mereka teman-temanku, yang mengisi kehidupanku di pondok selama kurang dari tiga bulan di sana.

Sampai akhirnya aku di jemput oleh kakakku. sesaat sebelum pulang, aku melihat banyak teman-teman lain. Aku hanya perlu berbaur tetapi, sudah terlambat. Aku pulang.

Persiapan

prepare-professional-personal-self-help-future-growth-reflection-graphcom-blog-1080x675
sumber google

Sebelum pulang ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di pondok. Administrasi, perpindahan, ujian yang belum selesai menunda keberangkatanku sehari. Termasuk untuk soan (pamitan ke kyai).

aku dan kakakku yang ke 4 dan ke 1, mengurus administrasi terlebih dahulu. Dengan diteman oleh seorang kenalan dari pamanku kami mengurusnya. Administrasi terkait dengan perpindahan santri dari pendidikan formal di pesantren ini ke sekolah yang akan aku tuju di kampung halaman.

Ulangan pertengahan semester bahkan belum selesai dan baru berjalan selama 3 hari. Aku bahkan belum sempat berpamitan dengan guru haditsku.

Ketika di urus oleh petugas administrasi yang juga salah satu guru yang mengajariku pelajaran non formal, ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan seperti :

  • Perpindahan nilai santri tidak bisa di lakukan disebabkan karena ujian yang belum terselesaikan dan harus menunggu beberapa hari lagi.
  • Butuh persetujuan dari kyai untuk memulangkan santri
  • Dan dimana santri akan dipindahkan nantinya belum jelas dan ini bisa terselesaikan dengan mendapatkan persetujuan kyai.

dengan persyaratan itu kamipun hanya bisa memenuhi poin yang kedua persetujuan dari kyai.

Pamitan dengan Kyai

 

27735_1295625079840_3748794_n
sumber google

Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke rumah kyai untuk soan berpamitan sekaligus meminta persetujuan agar bisa dipulangkan ke daerah asal.

Kami berangkat ke rumah kyai saat waktu menjelang dzuhur. Sesampainya di rumah kyai, kami di suruh menemui kyai di masjid, dan pada waktu itu kebetulan waktu telah memasuki dzuhur. Sesuai kebiaasaan pak kyai mengimami sholat rawatib setiap harinya kecuali saat sedang udzur (berhalangan).

Segera kami mengambil wudhu dan berisap-siap melaksanakan sholat dzuhur, terlihat kyai sudah berada di shaf terdepan.

Kamipun melaksanakan sholat di masjid besar pondok pesantren Al-fatah yang biasa orang sebut markaz trangkil. Masjid ini dikelilingi sungai dan jurang yang cukup terjal tidak sampai membuat orang mati kalau jatuh ke bawah. Berbeda dengan sekarang sungai itu sudah menjadi bendungan dan daerah sekitarnya mulai diperbaiki dan diberikan pengaman.

Setelah iqomah kamipun melaksanakan sholat dengan tertib dan khidmat yang setelahnya diiringi dengan doa bersama dipimpin oleh kyai. Rumah kyai berada di sebelah timur masjid hanya berjarak 50 meter saja dari pekarangan masjid.

Setelah sholat kamipun mengikuti pak kyai ke arah barat, ke sebuah pintu yang menghubungkannya dengan gazebo masjid.

Gazebo ini tidak terlalu luas, hanya ada satu ruangan sempit di balik pintu, dan ruangan lesehan tanpa pintu di depannya. Kondisi gazebo ini masih sangat kokoh, terlihat bersih dan pemandangan di sekitarnya asri.

Dengan dikelilingi jurang-jurang yang tadi aku sebutkan di awal, dan juga sungai yang mengalir di bawahnya sangat tepat untuk menenangkan diri. Hanya ada satu pintu akses yang bisa menuju ke gazebo tersebut dan itu adalah pintu yang sama dengan pintu yang kyai lewati.

Keajaiban di Pesantren

sumber bill37mccurdy.com

Kami mengikuti kyai dari belakang, selang beberapa detik setelah memasuki pintu yang mengarah ke gazebo.

Sesaat setelah kami juga memasuki pintu, kami tidak mendapati kyai disana. Kami mencari dimana beliau berada, kami mengecek ruangan yang ada di gazebo dan terlihat masih terkunci dari arah luar.

Melihat sekeliling hanyalah jurang dan sungai yang memisahkan, tidak ada akses lain. Beberapa menit kami berbincang di dalam, menunggu kyai keluar dari pintu tetapi, tidak ada hasil.

Tiba-tiba ada orang yang memanggil dari arah selatan masjid, tepat di dalam masjid,

“Pak kyai di sini” kata orang yang berteriak memberitahu kami.

“Hah, perasaan tadi pak kyai lewat sini, lewat mana beliau, ah sudahlah ayo kita ikuti beliau” kata kami yang mengikuti dengan perasaan yang masih kaget.

Secara tiba-tiba kyai muncul dari bagian dalam masjid dari arah selatan, kami tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini. Tetapi, bagi orang-orang di sekitar itu merupakan hal yang biasa.

Akhirnya kami berada di rumah kyai dan meminta soan sekaligus meminta persetujuan untuk pulang ke daerah asal untuk melanjutkan pendidikan di sana,

“Ada perlu apa?” kata pak kyai.

“ini pak kyai, anak ini mau pulang ke daerahnya dan mohon doa restunya agar saat kembali bisa belajar lebih giat di sana.” Kata paman yang menuntun kami ke beliau sebagai juru bicara kami.

“mau pindah kemana?” kata pak kyai.

“Katanya mau pindah ke pondok di dekat kampungnya, di daerah pegunungan”. Kata Paman membantu kami menjawab pertanyaan kyai.

“Ya sudah, Silahkan kembali, belajar yang giat, semoga sukses di sana.” kata pak kyai dengan lemah lembut.

“terima kasih pak kyai” Kata kami.

Persetujuan kami dapatkan dan kami kembali ke bagian administrasi dan mereka menyetujui pemulanganku ke daerah asal, dengan catatan tidak membawa nilai apapun.

Kehilangan keberkahan

Dengan perasaan yang lega aku dan kakakku pulang ke kampung halaman. Beberapa hari disana kebiasaan di pondok bersisa.

Tetapi lama kelamaan hati ini menjadi keras kembali. Pernah sekali bagian administrasi menghubungiku lewat telepon rumah untuk menanyakan apakah aku akan kembali kepesantren atau tidak. Aku menjawab tidak, dengan perasaan yang campur aduk karena takut membebankan orang tua dan masih takut untuk hidup sendirian.

orang tuaku mendaftarkanku di sebuah sekolah mts di daerah alauddin. Karena tidak ada lagi sekolah yang ingin menerimaku sebab tidak punya nilai untuk ditransfer sebagai murid pindahan.

Pada akhirnya sekolah yang tsanawiyah (setingkat SMP) yang kutempati membantuku dengan memberi nilai awal yang rendah. Seiring berjalannya waktu nilaiku meningkat dan bahkan menjadi peringkat ke 2 umum di sekolah itu sampai aku lulus dari sana.

Tetapi ada yang aneh, aku tidak merasakan indahnya persaingan disana, ilmu yang kudapatkan tidak bisa aku aplikasikan. Dan ternyata keberkahan dari pesantren itu hilang.

Aku menjadi orang yang pemalas kembali sampai aku berumur 17 tahun dan memutuskan untuk mondok lagi.

 

Demikian cerita saya kali ini, semoga bisa menjadi bahan pembelajaran bagi teman-teman sekalian. Ikuti lanjutan kisahnya hanya di cobalagiaja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: