Perantauan pertama yang menguatkan

Perantauan pertama yang menguatkan

Kemana harus memulai

Setahun kemudian setelah aku lulus dari SD, belum sempat aku melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Aku belum terlalu mengenal apa itu SMP dan saat itu dipikiranku hanya ada bermain dan bepergian. Perantauan, mungkin akan lebih menarik jika seperti itu.

Belum sempat aku berpikir tentang bagaimana kehidupan setelah SD, apa yang harus aku lakukan, kemana aku harus belajar, bagaimana cara agar aku bisa masuk ke SMP favorit atau yang bertaraf nasional.

Hanya bermain dan bepergian saja yang ada di kepalaku. Saat berpikir untuk merantau, bepergian ke tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Tidak ada pikiran tentang bagaimana aku hidup di sana.

Bagaimana apabila tidak ada orang tuaku di sisiku, bagaimana bila tidak ada kakakku yang menjagaku. Apakah aku sanggup untuk berkelana sendirian. Apakah aku bisa menjaga diriku sendiri. Ataukah aku bisa membuat orang tuaku bahagia?.

Naluriku hanya ingin bermain, kemanapun aku pergi yang terbayang adalah bagaimana permainan di luar sana. Apakah lebih bagus dari sini, ataukah orang-orangnya lebih seru daripada di kotaku sendiri?.

Saat itu tidak ada sedikitpun dari pertanyaan di atas yang menjadi pertimbanganku. Bahkan aku belum berpikir bagaimana cara merawat diriku sendiri yang kadang untuk mandi dan menyiapkan buku-bukuku saja harus di tuntun.

Beberapa bulan setelah kelulusan, aku belum sempat menyiapkan ijazahku sedikitpun. Belum ada dipikiranku untuk mendaftar Sekolah Menengah pertama. Tinggal beberapa hari saja seluruh pendaftaran tertutup.

Sehari kemudian aku mendapatkan kabar bahwa sepupuku akan berangkat ke jawa untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SMP. Tepatnya pesantren yang juga mengajarkan pendidikan formal.

Tempatnya berada di daerah magetan-maospatih sekitar satu jam dari madiun jawa timur. Sebuah pesantren yang cukup besar yang punya ribuan santri.

Berkah pesantren

termasuk warga di sekitar pesantren adalah binaannya juga. Kehadiran pesantren itu membawa dampak yang sangat besar bagi kemakmuran kampung. Pasalnya peningkatan ekonomi masyarakat sekitar bertambah, hasil tanamannya semakin meningkat dan subur.

Mungkin ini bagian dari berkah pesantren itu. Dan melihat sangat banyak orang yang menuntut ilmu di sana. Sepengetahuanku orang yang menuntut ilmu do’anya lebih mustajab saat itu.

Sungai-sungai mengalir dengan lembut di sana. Pepohonan yang asri dan sawah yang terbentang luas.

Masyarakatnya sangat patuh terhadap kyai. Sopan santun dan tata krama terhadap orang yang berilmu menjadi pegangan yang kuat bagi masyarakat sekitar dalam menjalani kehidupannya.

Perantauan dimulai, aku memutuskan untuk ikut dengan sepupuku untuk bersekolah di jawa. Saat itu tanpa pertimbangan yang matang dan hanya ingin mengetahui bagaimana pulau lain di luar sana. Bagaimana rasanya naik kapal laut atau pesawat?.

Kakakku memberitahukan kepadaku untuk memikirkannya dengan matang. Melihat saat itu aku masihlah anak yang berumur 10 tahun yang masih lebih suka bermain, aku hanya mengangguk saja dan setuju untuk pergi.

Tanpa berpikir panjang lagi, Ibuku mulai mengemas barang-barangku. Semua keperluanku disiapkannya dengan sangat baik dan rapih, seperti saat di rumah.

Karena saat itu pamanku tidak bisa mengantar anaknya, maka ayah, ibu , dan kakakku yang baru masuk SMP saat itu ikut mengantarku ke jawa. Waktu itu dengan menggunakan kapal laut kami berangkat ke jawa timur.

Perjalanan yang sangat melelahkan dengan kapal laut yang terombang-ambing di laut. Rasa mual dan perasaan saat masih di atas kapal masih aku rasakan sesampai di darat.

Setelah kapal berlabuh kami langsung mencari kendaraan untuk menuju ke pesantren menggunakan mobil sewaan.

Kami sampai di perkampungan yang ada di area pesantren. Sangat banyak orang yang lalu lalang, termasuk para santri. Saat itu masyarakat masih memiliki pengetahuan yang standar sesuai kebudayaan.

Ta’dzim (hormat/santun/sopan) terhadap orang yang berilmu hanya itu yang mereka kedepankan saat itu. Begitu banyak kegiatan terlihat, terutama karena banyaknya santri baru yang mencari peralatan yang mereka butuhkan.

Berkah, sangat berkah kampung ini kedatangan banyak para penuntut ilmu. Belum lagi di tambah banyaknya orang tua wali yang menyempatkan diri untuk berbelanja di kios-kios mereka.

Awal sebuah perpihasahan

melihat begitu ramai dan bagusnya kawasan itu, di tambah ada sungai yang mengalir dan sawah yang terbentang luas. Terlebih lagi ada banyak pohon buah yang menjadi kesukaanku saat di kampung, namanya lobe-lobe (buah gerseng).

Buah yang kecil dari pohon besar yang punya banyak cabang. Warna buahnya mulai dari hijau sampai merah gelap. kalau buahnya berwarna hijau artinya belum matang, kalau sudah mulai kekuningan artinya sudah ada rasa manis di dalamnya.

Semakin warnanya menjadi merah cerah maka akan semakin manis tetapi, kalau warnanya menjadi lebih tua maka artinya buahnya akan busuk.

Setelah sekian lama berkeliling pesantren, melihat sungai, sawah, ladang, masjid besar, rumah kyai, dan banyak lagi, akhirnya kami menuju ke tempat pendaftaran santri baru.

Namaku dan sepupuku sudah terdaftar dan sudah mendapatkan asrama. Pendaftaran telah selesai, kamipun mencari peralatan yang diperlukan seperti lemari, jubah, dan meja.

Pasarnya tidak terlalu jauh dari pesantren, cukup berjalan sekitar 15 menit untuk sampai. Sangat ramai, banyak santri lain juga yang baru membeli peralatan mereka disana. Ada juga yang mendapatkan warisan dari santri lama yang merupakan kenalannya.

Barang dan seluruh peralatan telah terbeli dan kami kembali ke asrama untuk menaruhnya. Waktu itu aku dibekali dengan beberapa cemilan oleh orang tuaku dan setelah itu mereka pergi.

Sangat berat awalnya karena aku belum punya teman sama sekali hanya sepupuku saja.

Sebelum orang tua dan kakakku kembali ke makassar, mereka mau mengunjungi kerabat yang ada di jawa tengah. Di cilacap tepatnya mereka akan bepergian selanjutnya.

 

Dengan terpaksa mereka kembali

Kegiatan pesantrenpun dimulai, aku mengikuti seluruh kegiatan dengan tenang dan merasa baik-baik saja awalnya. Di hari ketiga setelah akhirnya aku mendapatkan teman, ada insiden yang terjadi di kobongku (asrama/kamarku). Lemariku di cungkil orang dan seluruh cemilan yang dibekalkan orang tuaku raib di ambil orang.

Aku menangis tidak karuan, dan menghubungi orang tuaku di wartel.

“mama, dicungkilki lemariku, kesiniki cepat jemputka” kataku dengan logat makassar.

Baru saja mereka sampai di cilacap berjumpa dengan kerabat di sana, aku malah menyuruh mereka datang secepatnya ke magetan lagi.

Bukan waktu sedikit dan bukan uang sedikit untuk pulang balik cilacap magetan dalam 1 hari. Capek pasti dirasakan keluargaku waktu itu. Karena kasih sayang dan khawatir mereka kembali ke pesantren dan melihat keadaanku.

“lemarimu dicungkil? apa yang hilang?” kata kakakku.

“Iya kak, cemilan dan waferku hilang” kataku dengan wajah yang sedih.

“Ya Allah dek, jauh-jauh dari cilacap ke sini 6 jam cuman kehilangan cemilan. Capek dek mama bapak” kata kakakku

“Sudahmi nak ikhlaskan saja cemilan bisa dibeli lagi, nanti dikasih uang” kata ayah dan ibuku.

“maafka mama, bapak, kakak” kataku sambil tersedu-sedu.

Setelah itu aku berpamitan dan betul-betul melepaskan mereka pergi, dengan banyak merindukan mereka. Merekapun berangkat langsung kembali ke makassar dengan menggunakan kapal laut kembali.

Dengan perasaan sedikit menyesal karena telah menyusahkan orang tua dan kakakku, aku mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan mencari teman. Sampai di saat satu bulan kemudian teman dekatku pulang kembali ke rumahnya dan tidak pernah kembali ke pesantren lagi.

Di lain sisi sepupuku mendapatkan banyak teman, termasuk teman yang sedaerah dengannya. Sedangkan aku tidak punya teman dekat lagi, teman yang bisa aku ajak makan bersama dan main bersama, selain teman sekelasku.

Perantauan pertamaku ini mengajarkanku bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru. Menjadikanku lebih banyak berpikir tentang orang disekitarku, terutama untuk tidak menyulitkan orang lain.

Bagaimana menjadi orang yang bermanfaat adalah salah satu hal yang terus aku tekankan hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, jiwa persainganpun ikut muncul bersama dengan sifat lainnya.

 

Terima kasih telah setia membaca pengalaman hidup saya. Semoga ada pelajaran yang dapat kalian ambil dari kisah ini. Ikuti kelanjutannya hanya di cobalagiaja.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: