Kompetisi para penuntut ilmu pendatang baru

Kompetisi para penuntut ilmu pendatang baru

Atmosfer persaingan yang indah

 

pemenang
sumber pexels.com

 

hanya sedikit berkas ingatan yang tersisa dari kehidupanku di pesantren 9 tahun yang lalu

9 tahun yang lalu, aku berada di sebuah pesantren bernama Al-Fatah temboro, seperti yang kusebutkan sebelumnya. Tempatnya sangat bagus, hanya saja aku yang masih belum terbiasa.

Saat pertama masuk ke kawasan pesantren hawa persaingan sangatlah terlihat. melihat kiri dan kananku banyak sekali santri yang berlomba untuk mendapatkan ilmu. Pagi melihat mereka berdzikir dengan khidmat, mengaji dengan suara yang indah dan penuh penghayatan. Ada yang menangis karena tidak bisa menghafalkan ayat Al-Qur’an.

Dekat dengan orang-orang berilmu membuatku menjadi lebih rendah hati dan tidak sombong. Menjadi santri membuatku sadar bahwa ilmu tidaklah datang begitu saja, tetapi dicari. Dengan istiqomah, susah lagi kepayahan.

seperti dalam hadits yang disabdakan Rasulullah SAW

Hadits “Kewajiban Mencari Ilmu”
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Menjadi sombong adalah sebuah kesalahan besar, nyatanya kesombongan hanyalah kebanggaan terhadap kekosongan. Kalau hanya dengan sedikit ilmu menjadikan kita merasa paling benar maka itu kebodohan.

Kalau dengan kekayaan menjadikan kita dengan gampangnya merendahkan orang lain maka itu hanya kemiskinan yang hakiki. Di saat kita merasa sombong dengan kekayaan, di luar sana ada orang yang berbahagia dengan kemiskinannya.

Dikala harta bergelimang tetapi tetangganya kelaparan tentu itu adalah kemiskinan. Kalau dengan kekayaan bisa memakmurkan tetangganya maka itu nikmat.

ada sebuah peribahasa mengatakan “Di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada tanah yang lain”.

Ada pepatah mengatakan kalau kamu tidak tahan pahitnya belajar, maka kamu akan merasakan pahitnya kebodohan seumur hidup.

mengingat diriku yang notabenenya adalah orang yang sangat malas dan hanya ingin bermain saja, menjadi sebuah pukulan keras. Iri sangat iri dengan mereka yang dari kecil memang suka belajar sedikit bermain. Karena sekali terjebak dalam zona nyaman akan susah untuk keluar.

Ta’dzimnya masyarakat pesantren

 

Alhamdulillah merupakan pengalaman dan kesempatan yang sangat luar biasa untuk bisa jadi santri. Rasanya dekat dengan orang-orang berilmu, indahnya cara para ulama menegur, bagaimana membimbing dengan ikhlas dan sabar. Ditambah lagi setiap hari bertemu dengan para ulama menjadikan hati ini terobati dari banyaknya prasangka buruk.

Ta’dzim seorang santri kepada ustadznya yang selalu dijunjung tinggi. Bahkan ketika di jalan raya, ustadz lewat menggunakan kendaraan, seluruh orang termasuk santri berhenti sejenak dan memberi jalan kepada ustadz sambil menundukkan kepala.

sangat banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari keseharian di area pesantren. Ada juga adab terhadap anak dari ustadz yang juga harus kita hormati.

Semuanya termasuk adab dalam menuntut ilmu, seperti yang di jelaskan dalam kitab ta’limul muta’alim karangan syaikh az-zarnuji tentang bagaimana adab terhadap keluarga guru.

Dua minggu telah berlalu semenjak aku berada di pesantren. Pelajaran formal dan non formal berjalan dengan baik. Bersamaan dari itu aku sering terkena hukuman seperti di cerita sebelumnya.

sering terlambat dan kadang sakit tanpa memberi keterangan adalah penyebab kenapa sering di hukum. waktu itu aku masih menjadi orang yang apatis, masih takut untuk berteman dan penyendiri. Kecuali, ketika ada orang yang datang dan mengajakku bicara barulah aku berbicara.

Pelajaran yang paling sulit menurutku saat itu bukanlah matematika, tetapi pelajaran non formal. Seperti nahwu, shorof, dan kitab-kitab yang lainnya.

Dari semua pelajaran diniyah yang sulit, ada juga yang menyenangkan seperti Hadits. Setiap pertemuan menjadi pembahasan yang berbeda. Karena hadits-hadits yang disampaikan pada saat itu selalu diberikan contoh oleh ustadz dengan berbagai cara.

Kalau tidak salah ingat namanya ustadz mudatsir, beliau ini orangnya tegas dan salah satu ustadz yang terjun dibidang kedisiplinan santri. Tapi bukan beliau yang mendatangi kelas-kelas untuk memberi hukuman kepada santri yang tidak tertib. Beliau lebih kepada perizinan untuk santri ketika ingin keluar asrama.

Kompetisi dimulai

sumber google

25 hari sudah terlewati di pesantren, aku mendapatkan banyak ilmu berharga. Termasuk ilmu hadits yang di ajarkan pak mudatsir.

Ada satu waktu dimana pak mudatsir menunjukku untuk membacakan hadits dan artinya. Perasaan canggung dan masih malu ketika berbicara di depan umum menjadikanku sedikit kaku dalam membacakannya.

waktu itu aku membaca hadits tentang hadiah bagi orang yang tidak marah adalah surga. Hadits yang pendek tetapi sangat membekas di pikiranku. Dan hanya itu yang tersisa.

Ustadzku hanya diam mendengarkannya dengan khidmat. Setelah kubaca dan teman-temanku mendengarkan, ustadzku menyuruhku untuk kembali duduk. sampai saat tiba pengumuman dari beliau,

“anak-anak , Alhamdulillah sekarang kita sudah sampai di hadits yang ke 25, siapa yang sudah hafal”

“belum ustadz” kata anak-anak dalam kelas serempak menjawab

“kalau begitu ada tugas buat kalian,”

“Apa itu ustadz” kata kami,

“hafalkan 25 hadits dari kitab ini, 3 orang yang menyelesaikannya lebih dulu dapat hadiah dari ustadz” kata ustadz menantang kami.

Dalam hatiku, tertantang jiwa ini untuk ikut serta. Hati yang penasaran tentang hadiah apa yang akan diberikan oleh ustadz mudatsir.

Sebelum perlombaan aku sudah menghafalkan 10 hadits alhamdulillah, hanya tersisa 15 hadits lagi agar bisa memenuhi target dari beliau. Beberapa temanku juga ada yang sudah menghafalkan lebih dari 10 hadits. Semakin tertantang diri ini untuk lebih cepat menghafalkannya.

Siang malam, ketika ada waktu senggang di dalam kelas, aku selalu sempatkan untuk menghafalkan haditsnya. Saat itu kami hanya diperintahkan untuk menghafalkan inti dari haditsnya saja tanpa perowinya (periwayat), sehingga lebih mudah.

Aku berusaha dengan keras agar tidak tertinggal oleh teman-teman. Jarang sekali di pesantren untuk mendapatkan hadiah, dan karena aku sendiri jarang keluar dari pesantren kecuali untuk sholat jum’at.

Seminggu kemudian kembali kami dipertemukan dalam sebuah majelis ilmu Hadits. Semua orang tampak masih mengulang-ulang hafalan mereka kembali.

Ustadz menjelaskan satu hadits lengkap dengan arti dan maknanya. Kami mendengarkan dengan khidmat sampai selesai.

Pertama kali juara di pesantren

sumber google

Penjelasan hadits selesai dan beliau melanjutkan perlombaan yang diumumkan minggu lalu,

“anak-anak, siapa yang sudah hafal haditsnya” kata ustadz dengan senyum yang berharap ada yang sudah selesai.

Semua orang masih sibuk menghafalkan. Ada beberapa yang mulai angkat tangan, akupun ikut mengangkat tanganku.

dengan lancar teman-temanku menghafalkan haditsnya di depan sang guru.

Saat itu sejujurnya aku belum menghafalkannya dengan baik hanya bermodal membaca berkali-kali sebelum maju ke depan.

Giliranku tiba dan aku mulai menghafalkannya. Alhamdulillah aku bisa menghafalkan 20 hadits dengan baik  dan yang ke 5 terakhir dengan tersendat-sendat dan butuh bantuan guru.

Akhirnya hanya beberapa orang yang mampu menghafalkannya dengan sempurna, dan aku masuk yang ke lima dengan terbata-bata.

5 orang yang menghafalnya lebih dulu mendapatkan hadiah oleh ustadz. Dengan senangnya aku menanti hadiah itu dan berharap itu sesuatu yang bagus. Tiba waktunya aku dipanggil ke ruangan beliau untuk mengambil hadiahnya.

Tebak apa yang kudapatkan, itu sebuah kitab yang berisi nadhoman yang pada saat itu aku belum terlalu mengerti, dan sedikit kecewa. Dan aku baru tau kegunaannya dan ilmu yang terkandung di dalamnya sangat banyak ketika aku menjadi santri lagi di daerah bandung. Sungguh hadiah yang sangat berharga.

Tapi tidak bertahan lama aku di pesantren, karena sifatku yang cengeng dan tidak mau jauh dari orang tua aku meminta untuk dipulangkan. Dengan mengancam orang tuaku dengan dalih aku akan bunuh diri kalau tidak dijemput.

Pada akhirnya 2 bulan 15 hari aku di pesantren, dan kembali ke makassar dengan tangan kosong. Hanya satu hadits yang tersisa la taghdhob walakal jannah hadits ini masih terngiang di kepalaku sampai sekarang.

Janganlah kau marah karena bagimu adalah surga, satu hadits yang menurutku mudah untuk diucapkan sulit untuk dilaksanakan.

 

Cukup sekian untuk sesi kali ini, semoga menjadi penambah semangat kita semua dalam menuntut ilmu, terutama yang ingin menjadi santri. Ikuti kisah selanjutnya hanya di cobalagiaja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: