Kalian harus tahu fenomena ini dulu sebelum jadi santri

Kalian harus tahu fenomena ini dulu sebelum jadi santri

Fenomena lucu dan menegangkan saat menjadi santri pertama kali.

Sumber google

Jadi santri merupakan suatu hal yang baru bagiku. mulai dari lingkungan, dalam bermasyarakat, menyesuaikan kebiasaan sebagai santri dan juga mengikuti adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut.

Seminggu setelah orang tuaku kembali ke makassar bersama kakakku akupun mulai aktif dalam kegiatan kepesantrenan.

Aktifitasku di pesantren dibagi ke dalam dua jenis, ada yang formal dan non formal.

Kegiatan formal meliputi pelajaran SMP seperti biasanya, mata pelajaran dasar yang diajarkan seperti matematika, IPA, bahasa Indonesia, IPS, dan ada tambahan bahasa arab.

Sedangkan kegiatan non-formal yakni kegiatan dalam menambah pengetahuan agama.

Seperti Fiqih, Shorof, Aqidah akhlak, Al qur’an, hadits dan lain-lain.

semua yang aku temui di pesantren adalah sesuatu yang baru. Awalnya sangat asing tetapi lama kelamaan menjadi terbiasa. Hari demi hari terasa lambat awalnya tetapi, saat ada teman yang menemani semuanya tidak terasa seperti itu.

Beberapa minggu kemudian aku menemukan teman yang baik. Tubuhnya sama mungilnya denganku, perbedaanya hanya pada warna kulitnya yang lebih putih dan otaknya yang lebih cerdas. Untungnya dia tidak pelit ketika aku memberikan pertanyaan.

Setiap hari kami selalu bermain bersama, ketika waktunya sekolah terkadang aku yang lebih dulu memanggilnya di asrama dan tidak jarang juga dia lebih dulu datang ke asramaku.

Makan satu nampan

STIBA makan dengan nampan
Sumber google

Saat waktu makan aku dan temanku selalu bersama, kami makan satu nampan. Makan satu nampan itu bukan suatu hal yang menjijikkan, itu sama saja ketika anda makan di satu piring. Pasti akan berantakan ketika telah masuk berapa suapan.

Biasanya hal ini dipicu karena makanannya yang sangat enak, atau takut kehabisan. Sedangkan kalau kita makan satu nampan rasanya takut kehabisan, apalagi kalau enak. Ditambah ada keberkahan dalam makan berjama’ah seperti sabda rosulullah

طَعَامُ الاِثْنَيْنِ كَافِى الثَّلاَثَةِ ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةِ كَافِى الأَرْبَعَةِ

Makanan porsi dua orang sebenarnya cukup untuk tiga, makanan tiga cukup untuk empat.” (HR. Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2059, dari Abu Hurairah). Dalam lafazh Muslim disebutkan,

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِى الاِثْنَيْنِ وَطَعَامُ الاِثْنَيْنِ يَكْفِى الأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الأَرْبَعَةِ يَكْفِى الثَّمَانِيَةَ

Makanan porsi satu orang sebenarnya cukup untuk dua, makanan dua sebenarnya cukup untuk empat, dan makanan empat sebenarnya cukup untuk delapan.”

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 535) berkata, “Kecukupan itu datang karena keberkahan dari makan secara berjama’ah. Cara jama’ah ini membuat yang menikmati makanan itu banyak sehingga bertambah pula keberkahan.”

Sumber : https://rumaysho.com/3255-makan-berjamaah.html

Gosob

Antisipasi gosob
sumber alasantri

Ada sebuah fenomena yang hanya akan terjadi di lingkungan pesantren yaitu gosob (meminjam tanpa izin dan setelah menggunakannya, dikembalikan sesuai kondisi setelah dipinjam)

Fenomena ini adalah hal yang hanya ada dipesantren. beberapa faktor yang menjadi alasan kenapa terkadang ada santri yang melakukan gosob salah satunya karena terburu-buru dan lupa untuk menggunakan barang yang diharuskan.

Hasilnya ketika melihat barang yang dibutuhkan ada di sekitarnya contohnya sendal atau baju yang sesuai maka tidak tanggung-tanggung santri yang membutuhkan tadi akan langsung menggunakannya dan dengan niatan akan mengembalikannya setelah selesai.

Suatu waktu aku ada kelas pagi, pelajarannya matematika dan bertepatan dengan hari senin. Senin diwajibkan untuk menggunakan jubah berwarna putih.

Sehari sebelumnya aku sudah mencuci jubah putihku di malam hari setelah kelas diniyah (kelas agama non formal). Tepat jam 10 malam setelah selesai kelas aku menuju ke ruang cuci untuk mempersiapkan bajuku yang harus aku pakai besoknya.

Selesai dengan mencuci aku lalu menjemur pakaianku di tempat jemuran para santri. Kebetulan setelah kelas diniyah ada kelas kick boxing juga yang diadakan dari jam 23.00-01.00

Keesokan paginya aku menyiapkan bukuku 30 menit sebelum kelas dimulai. Hanya tinggal mengganti baju seragam saja dan sudah siap untuk mengikuti kelas. Segeralah aku menuju jemuran untuk mengambil bajuku.

sesampai di jemuran ternyata banyak juga yang menjemur baju jubahnya dengan warna yang sama. Tentu saja aku sudah memberi tanda pada bajuku agar tidak tertukar. Setelah mencari beberapa saat ternyata tidak kudapati bajuku menggelantung di jemuran itu.

5 menit lagi masuk kelas, temanku mulai mendesakku untuk cepat ke kelas. Dan pada akhirnya aku ke kelas dengan menggunakan pakaian yang tidak sesuai dengan peraturan.

Untung saja aku dan temanku tidak terlambat masuk kelas sehingga hukumannya tidak terlalu banyak.

Dan sebagai sesama santri yang kadang ada khilaf di dalam menjalani kehidupan di pesantren, merupakan pelajaran untuk ikhlas. Gosob adalah hal yang biasa menurut kami sehingga tidaklah mengapa karena sudah ikhlas. Berhusnudzon kepada sesama juga kita dapatkan pelajarannya salah satunya ketika kita di gosob.

Hukuman bagi yang tidak tertib

Hukuman bagi yang tidak tertib
sumber google

Beberapa saat setelah pelajaran dimulai, Tim guru kedisiplinan atau bisa disebut guru BK menghampiri kelasku dan memanggil satu persatu santri yang melanggar peraturan. Aku mengira bahwa hukumannya tidak akan parah, seperti cubitan atau jeweran di telinga.

rotan pemukul
sumber google

Rotan kecil seperti pedang kayu dalam bela diri kendo bokken terlihat berada di telapak tangan guru BK. Dengan perasaan yang lumayan takut aku dan teman-teman lainnya yang melanggar mulai berbaris di hadapan guru tersebut.

Sambil tersenyum guru tersebut menyapa kami, dan berkata

“ayo anak-anak yang tidak mengenakan seragam kedepan yah” kata guru BK

Karena aku sadar bahwa aku tidak mengikuti aturan, dengan berani aku maju ke depan dan teman-teman yang tidak disiplin juga mengikut dan membuat shaf di hadapan guru.

“ayo yang rapih, ustadz mulai dari yang paling kanan dulu yah. Coba telapak kakinya diangkat setengah ke belakang” kata guru yang biasanya kami sebut ustadz.

aku mulai menaikkan telapak kakiku ke belakang sejajar dengan lutut. Setelah itu pak ustadz mengambil rotan yang dia bawa dan bersiap memukulkannya ke kakiku.

“ayo nak, bismillah yah, semoga besok tidak diulangi lagi kesalahannya” Kata ustadzku dengan ramah dan tersenyum kepadaku.

“argh… arghh.. arghh” Suaraku menjerit kecil saat dipukuli dengan rotan sebanyak 3 kali.

lumayan perih dan mataku sedikit berair karenanya. Setelah itu kami kembali mengikuti pelajaran dengan tenang sampai selesai.

Ada satu hal yang aneh dari hukuman tersebut. sebelumnya aku sangat sering terkena hukuman oleh guru, baik itu karena terlambat atau karena tidak mengerjakan PR. Perasaan yang aku dapatkan sesaat setelah dihukum saat SD berbeda dengan di sini.

Saat SD aku sering marah dan kesal terhadap guru yang menghukumku, terkadang karena itu aku sering diejek oleh teman-temanku. Aku bahkan sering bergumam dalam hatiku bagaimana kau sangat membenci guru yang menghukumku di depan teman-teman.

Tapi saat di pesantren semua perasaan itu hilang dari pikiranku, lebih damai dan nyaman.

Perubahan

Berbeda dengan yang terjadi saat SD, di sini semuanya sangat aneh. Ketika aku dihukumi oleh ustadz bahkan lebih parah daripada jeweran/plintiran atau cubitan aku merasakan sebuah penyesalan. Penyesalan karena tidak mengikuti peraturan yang ada, tidak ada dendam atau mengumpat guru yang sudah menghukumku.

menjadi santri memang sangat istimewa, hanya saja saat itu aku belum benar-benar sadar tentang keistimewaannya. Betapa berharga pengalaman ketika belajar di pesantren, bukan hanya ilmu formal dan non formal tapi, ada juga ilmu untuk mengarungi kehidupan.

belajar bagaimana beradaptasi dengan lingkungan sekitar adalah suatu hal yang berharga. Kalau saja aku tidak bepergian, tidak melakukan perantauan maka tidak akan ada perubahan sedikitpun dengan diriku.

Sampai saat itu aku masih saja menjadi anak yang cengeng, tidak bisa jauh dari orang tua, sampai ada saat ketika aku bahkan menangis karena ingin segera pulang. Mengancam orang tua dengan bunuh diri hanya agar cepat dipulangkan ke rumah.

perubahannya bukan dari segi sifatku, tapi lebih kepada bagaimana mengambil tindakan yang pantas ketika sedang menuntut ilmu. Sikapku yang masih kekanak-kanakan memang mengganggu pembelajaran tetapi, aku selalu berusaha menekannya.

Jiwa persaingan juga tumbuh semakin besar di dalam diriku. Tidak seperti saat aku di SD dulu, bahkan tidak belajarpu aku bisa mendapatkan juara kelas walau hanya di urutan 2, dan sempat turun di urutan 3 ketika di kelas 6.

Aku baru merasakan keterpurukan karena peringkatku turun saat SD, tapi tidak merubah apapun dengan kemalasanku.

Hanya saat di pesantren, Aku mulai merasakan ada dorongan untuk bersaing.

terima kasih telah setia membaca kisah ini, semoga ada pelajaran yang dapat kita ambil di dalamnya. Semoga kalian tidak takut lagi untuk menjadi santri. Ikuti lanjutan kisahnya hanya di cobalagiaja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: