Mengharukan, Anak SD ini bekerja ikhlas dan diupah makan

Mengharukan, Anak SD ini bekerja ikhlas dan diupah makan

Masa kecilku di pinggiran kota

pexels-photo-221357
Sumber Pexels.com

Kota kecil bernama Sungguminasa adalah tempat dimana aku tinggal. Tempatnya di pusat Kab. Gowa tetapi , rumahku ada dipinggiran kota dekat dengan Rumah sakit daerah  dan beberapa Sekolah Dasar disekitarnya. Tempat yang tidak terlalu padat, belum sepadat jakarta menurutku. Di sana ada sungai yang cukup panjang, namanya Sungai Je’ne’berang yang kalau diartikan bermakna air parang/ air parang.

Orang-orang di tempatku sebagian besar terdiri dari pedagang dan selebihnya adalah pegawai negeri atau swasta. Waktu shubuh di daerahku itu pukul 5 WITA dan mayoritas masyarakat di sana memulai kegiatannya setelah sholat shubuh. Para pedagang ikan mulai mengambil ikan di pelelangan yang jaraknya 30 km dari kotaku dan mereka jual di pasar. Di sana masih ada sawah tapi hanya sedikit, kita harus berjalan sekitar 15 menit ke arah utara dan timur dari tempatku untuk menemukan area persawahan yang luas.

Rumahku ada di dekat Sekolah Dasar, tepat di sampingnya. Juga ada masjid yang lumayan besar, kira-kira bisa menampung 500-800 jama’ah kalau penuh.

Pagi hari biasanya ibu-ibu mencari lauk untuk keluargaku santap. Kalau Lonceng SD sudah berbunyi itu tandanya 15 menit lagi pelajaran dimulai di sekolahku. Ini seperti perbedaan dalam ke akuratan jam antar sekolah. Sekolahku berjarak 300 meter dari rumah dan hanya perlu waktu 10 menit untuk sampai ke sekolahku dengan berlari kecil/ bersepeda. Tetapi, itu tidak terjadi setiap saat, ada kalanya jam sekolahku sesuai dengan alarm lonceng itu.

Waktu itu hari kamis dan waktunya olahraga. Karena pelajaran pertama adalah kesehatan jasmani dan dengan sengaja aku memperlambat kedatanganku. Sesampainya di sekolah, gerbang sekolah telah di tutup dan akhirnya aku mencoba masuk di antara celah-celah pagar sekolah dan berhasil masuk ke dalam. Saat ingin ikut serta di lapangan ternyata guruku telah menunggu di depan anak-anak yang lain. Pada akhirnya hukuman di jatuhkan, sedikit jeweran di telinga, satu kaki di angkat dan rasa malu tak tertahankan melihat anak-anak yang lain menertawakan. Mungkin ini adalah hukuman yang tepat.

Rotan kecil memasuki kelas, semua mulut terdiam dengan tangan di atas meja terlipat rapih dengan sikap ramah menyambut guru yang membawanya. Rasa takut itu ada ketika guru sudah memasuki kelas dan siap untuk mengajar.

Sekarang semuanya berbeda, bukan hanya di tempat lain, mungkin juga telah merambah ke sekolahku. Semakin kaku terlihat hubungan antara guru dan murid yang tidak lagi mencerminkan sebuah kekeluargaan. Anak-anak yang diperbudak oleh Gadget dan orang tua yang diperbudak oleh anaknya. Ketika anak salah kendati mengakui kesalahan malah sebaliknya melayangkan hujatan dan kata-kata kasar. Untung saja aku tidak lahir di zaman now. Kalau mungkin aku lahir di zaman seperti saat ini, mungkin saja orang tuaku telah terbunuh oleh keinginanku. Mungkin saja semua sudah tidak benar lagi, keambiguan yang menyesatkan banyak orang.

Tetapi syukurlah aku lahir di era 90 an. Era dimana semuanya masih adem-adem saja, aku masih merasakan bagaimana dulunya aku bermain. Hanya sebilah bambu mampu membuatku dan kawan-kawanku saat itu mengingat betapa keras perjuangan para pahlawan. Sebilah bambu yang bisa kami rubah dengan sedemikian rupa dengan mekanisme sederhana seperti pistol dan pedang-pedangan. Pistolnya dari bambu, pelurunya dari kertas yang basah. Pedangnya dari bambu dan tumpul jadi apabila terkena hanya sedikit perih saja tidak sampai membuat sakit berhari-hari.

tuoi tho 17

Sakit yang memberi pelajaran berharga bagiku dan kawan-kawan, mengingat betapa pahlawan terluka parah demi melindungi negeri. Negeri ini yang terbentuk dari darah dan keringat para pejuang untuk menaklukkan para penjajah dengan deklarasi kemerdekaannya.

Mungkin saat itu aku belum berpikir seperti ini, tapi sangat suka ketika menyadari bahwa hal itu bisa meningkatkan nasionalismeku. Mainan tradisional dengan permainan tradisional, anak-anak ramai bermain dan orang tua yang berbincang-bincang dengan tetangga sembari memperhatikan anaknya bermain.

Banyak kejadian lucu dan menarik di waktu kecil yang menjadikanku sadar. Banyak hal yang patut kita jaga dan pertahankan sebagai warga negara yang baik dan manusia yang berakal.

pexels-photo-678637
Sumber Pexels.com

Sekolah Dasar dan Pedagang Bakso

bakso2.jpg
Sumber Google

 

11 tahun yang lalu, waktu itu aku adalah seorang anak kecil yang cupu, dengan badan yang sedikit berisi dan tidak terlalu pintar. Banyak bertanya dan sok tahu adalah ciri khasku masa itu. Kelas 5 C adalah kelasku, wali kelasku adalah seorang non muslim yang terbiasa dengan kehidupan orang-orang muslim.

Beliau mengucapkan salam dan menjawab salam. Dia mengajarkan 3 mata pelajaran saat itu diantaranya matematika, IPA dan IPS. Saat menjelaskan kepada kami tentang suatu ilmu, beliau mencoba untuk melakukan segala hal yang dapat membuat konsentrasi siswa kembali. Tidak sering beliau diam, juga tidak terlalu sering bercanda.

Isi kelasku berjumlah sekitar 30 orang yang didominasi oleh perempuan. Laki-laki hanya sedikit dan tidak banyak dari kami yang menonjol. Tidak sedikit yang dicap oleh orang lain nakal. Dalam batas wajar seorang anak kecil berumur 10 tahun kenakalan mereka hampir menyamai anak SMA. Tapi, itu bukanlah kesalahan penuh anak-anaknya.

Di daerah sekitaran sekolah memang punya lingkungan yang kurang baik, juga dikalangan para pedagang tidak sedikit yang pandai dalam mendidik anaknya dalam hal sikap tetapi baik dalam hal berwirausaha. Faktor lingkungan menjadi salah satunya yang memberi efek besar terhadap kelakuan teman-teman kelasku yang dicap sebagai anak yang nakal.

Jam 09.00 adalah waktu istirahat sekolah bagi kami. Makanan favoritku bakso dan lontong yang ditaburi bumbu pecel sebagai penambah rasa. Hanya sedikit makanan yang sesuai dengan isi kantongku. Setiap sekolah aku hanya diberi uang saku 1000-2000 rupiah kecuali, ketika orang tua mendapatkan rejeki lebih.

Untuk membeli bakso sendiri butuh 5000 rupiah permangkok jadi, aku hanya bisa membeli satu tusuk bakso saja dengan air minum gratis yang disediakan pedagang baksonya. Sedangkan, lontong bumbu pecel bisa saya dapatkan dengan uang 1000 rupiah dan lumayan membuat kenyang tetapi, untuk mendapatkannya saya harus keluar ke sebuah kios Panghegar namanya.

Kantin punya banyak jajanan dan salah satunya bakso itu, kadang untuk membeli jajanan di kantin harus berpikir 2 kali untuk itu. Alasannya snack tidak membuat kenyang, tidak sehat, dan juga mahal untuk ukuranku.

Kadang aku dengan satu temanku yang notabenenya anak pengusahapun tidak membawa uang lebih dari 2000 dan ketika lapar, kami pasti pulang ke rumah jika kehabisan cara untuk mendapatkan makanan. Tentunya cara yang halal.

Jam pertama sehabis olahraga, perutku mulai menggerutu dan ali juga sama. ali anak pedagang makanan siap saji sari laut.

Setelah pertandanya datang segera kami ke kantin dengan membawa uang 2000 rupiah yang kami punya. Sesampai di kantin kami mencari jajanan yang bisa membuat kami menahan lapar untuk beberapa jam lagi dan ternyata yang kami temukan hanya snack saja.

Setelah menyerah untuk mencari akhirnya kami duduk dekat dengan gerobak bakso. Pedagang bakso itu terlihat sangat asyik menuangkan kuah yang membasahi baksonya, ditaburi dengan bawang dan beberapa jeruk yang membuat rasanya semakin nikmat. Kami mulai tergiur dengan bakso itu. Semakin lama kami menatapnya semakin tenggelam kami dalam imajinasi rasa yang kami buat. Perut kami kembali berbunyi dan akhirnya kami mencari cara agar bisa makan bakso itu.

“mas, piringnya kami cucikan yah…” kata kami tanpa memberitahukan bahwa kami sedang lapar. Dengan wajah yang berseri-seri pedagang itu membalas kami “oh iya, makasih banyak yah”. cucian piringnya lumayan banyak dan kami sudah terlihat lemas saat itu. kata kami “mas udah selesai… hehe”, kata beliau “oh iya nak, terima kasih banyak. Jangan pergi dulu, duduk di sini”.

Pesanan baksonya sudah selesai beliau sajikan dan antarkan. Tetapi, mas membuat 2 mangkok bakso lagi, tidak terlalu banyak tapi tetap menggiurkan. Dengan tatapan yang tajam dengan mulut yang sedikit terbuka sembari memegang perut.

“nak ambil ini,” kata mas,

“ini mau diantarkan untuk siapa mas?” kata kami,

mas menjawab “bukan ini untuk kalian, makasih sudah bantu mas tadi cuci piring, besok-besok kalau kalian habis olahraga dan uang kalian tidak cukup, bantu mas cuci piring lagi yah”,

“wah.. mas makasih banyak, siap nanti kami bantu ” kata kami dengan wajah yang berseri-seri dan bahagia. Setelah itu kamipun menyantap bakso itu dengan sangat lahap dengan khidmat.

Bel masuk kelas telah berbunyi, kamipun berterima kasih kepada pedagang bakso itu dan bergegas ke kelas.

Aku mengingat dengan baik waktu-waktu itu, dan sangat menolongku sewaktu belajar di SD. Hal ini mengajarkanku untuk lebih berusaha keras lagi seperti pedagang bakso itu dan juga tidak lupa untuk membantu orang sering kesusahan atau kelaparan.

IMG_1945_1358926288
Sumber Google

 

Terima kasih telah menyempatkan waktu anda untuk membaca cerita saya, semoga dapat menjadi pelajaran untuk kita agar lebih bekerja keras dan tidak lupa untuk berbagi dengan sesama. Ikuti lanjutan kisahnya hanya di cobalagiaja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: