Takjub, Anak yang berani menentang preman sekolah

Takjub, Anak yang berani menentang preman sekolah

Melanjutkan kisah yang kemarin aku ceritakan sebelumnya tentang kubuh sosial di SDku

sekarang aku akan menceritakan saat-saat dimana aku mulai berani menentang kubuh itu.

Julukan pemberian Sang Preman

sumber google

Sejak SD aku adalah orang yang periang, tidak kenal lelah, selalu enerjik dan suka bertualang. Bahkan kadang orang tuaku sendiri khawatir karena tubuhku yang kecil dan sedikit cengeng.

Kebanyakan dari kegiatan sehari-hariku hanyalah bermain. Jarang sekali aku belajar, ketika disuruh oleh orang tua untuk belajar, aku malah kabur ke tempat temanku. Kakakku biasanya ikut bermain bersamaku.

Dia adalah salah seorang yang menjadi kebanggaan di SDku waktu itu. Menjadi perwakilan sekolah untuk ikut serta dalam kreasi sains yang dilaksanakan oleh SMP yang ingin ditujunya nanti. Membawa juara saat kembali merupakan kebahagiaan tersendiri untuk kami.

Seingatku waktu itu dia membuat sebuah kapal dengan bermodalkan dinamo dari mobil mainannya yang sudah tidak terpakai. Beberapa bahan yang digunakan dia dapatkan dari sepupuku yang juga senang merakit pesawat remot kontrol.

Sedikit demi sedikit dia mempelajari bagaimana merakit hal tersebut. Dan hasilnya seperti yang aku katakan sebelumnya. Kakakku itu adalah salah satu anggota dari kubuh 6C yang sifatnya netral, sama sepertiku tetapi punya teman di kubuh tertentu yang punya kekuasaan yang kuat.

Begitupun dirinya tidak terlalu suka bergerombol dengan orang-orang nakal. Berbeda dari teman-temanku yang disebut nakal, teman-temannya lebih baik karena punya kelebihan yang bisa diandalkan sekolah, seperti olahraga dan pramuka. Bahkan, mengalahkan kelas 6A yang dikatakan sebagai unggulan dari tahun ke tahun.

Kakakku adalah orang yang hebat dan berani, dia selalu melindungiku yang cengeng ini. Setiap hari aku hanya bermain dengannya, kecuali kalau teman-temannya mengajaknya pergi.

Aku sendiri hanya punya sedikit teman, salah satu alasannya adalah ketika di ajak bermain terlalu jauh aku menolak. Sebab aku terlalu takut dan cengeng untuk bepergian jauh tanpa kakakku.

Di sekolah, aku sering di ejek oleh kubuh preman itu, terutama yang menganggap dirinya sebagai bos. Salah satu orang yang paling menyebalkan menurutku, sekaligus orang yang memberikan nama panggilan dengan ejekan.

Menyebalkan tentunya tetapi masih bisa menghiraukan waktu itu. karena masih ada teman-teman di sampingku.

Merasa terganggu

Di zaman now sangat marak bullying yang terjadi. Di berbagai kalangan dari TK-Pekerja sekalipun masih saja ada orang-orang yang suka melakukan bullying terhadap orang lain.

Alasannya macam-macam, ada yang membully karena kesal dengan orang yang dibully, ada juga yang membully karena alasan senang seperti itu. Beberapa orang menganggap bullying itu hal biasa dan tidak perlu dihiraukan karena hanya membebani pikiran saja.

Salah satunya aku sendiri, beberapa saat aku berpikir bahwa bullying tidaklah berdampak apa-apa bagi kehidupanku. Mendengar beberapa berita mengabarkan banyak  sekali kasus korban akibat bullying yang terjadi di sekolah maupun di tempat kerja.

Pemikiran polos dan lugu waktu itu menyelamatkanku dari bahayanya bullying saat SD.

Kalau kembali mengingatnya, teman-temanku sering menyebutku “la’ba’ toli” yang artinya telinga besar. Pada dasarnya itu tidak terlalu menggangguku sama sekali. Karena kenyataan bahwa telingaku agak sedikit besar terlihat.

Setelah sang pemimpin kubuh menjulukiku dengan nama itu, mulailah banyak orang yang mematenkan nama itu kepadaku. Sehingga ketika melihatku hanya terpikir dibenaknya menyebutku dengan sebutan itu.

Tidak semua orang, hanya mereka dari kubuh itu saja yang paling sering menggunakan ejekan itu untuk memanggilku. Tetapi lain halnya dengan teman karibku yang memanggilku dengan nama itu kalau-kalau aku tidak mendengarkan ucapannya.

Semakin lama aku mendapati diriku dikenal dengan sebutan itu, aku mulai sadar bahwa itu adalah fakta. Akhirnya aku mulai terbiasa dengan hal itu. Karena sudah terbiasa akupun mulai mengacuhkan kelompok itu dan akhirnya mereka menunjukkan hal lain.

Bukan hanya memberikan julukan tapi juga mengambil apa yang menjadi satu-satunya peganganku di sekolah saat aku terpuruk.

Kelakuan mereka sudah keterlaluan, mereka bukan hanya mengejek saja. Kadang berlaku kasar kepadaku, bahkan sempat kakakku membelaku dan akhirnya terjadi insiden perkelahian dengan tangan kanan pemimpin geng itu.

kakakku tidak melawan sedikitpun, dia hanya memasang kuda-kuda saja, dan akhirnya anak itu kelelahan sampai kemudian guru datang dan perkelahian berhenti.

 

Pembalasan

Setelah perkelahian itu banyak yang berubah, termasuk bagaimana cara mereka menggangguku.

Mereka mulai menghasut anak-anak yang dekat denganku agar tidak bermain lagi denganku. Itu merupakan suatu hal yang sangat kubenci dari mereka. Bahkan mereka mengancam anak-anak itu apabila tidak mengikuti perintahnya.

Hanya teman karib sajalah yang masih mau mendekatiku dan beberapa dari mereka adalah anggota geng itu. salah satunya anak pengusaha kuliner yang kusebutkan pada pos sebelumnya 

Karena kesal dengan perbuatan mereka yang tidak berhenti menggangguku, aku mulai mencari-cari bagaimana cara untuk menaklukkan mereka. Mencari cara agar mereka enggan untuk menggangguku lagi.

Waktu itu sedang marak bullying dengan menyebutkan nama keluarga atau ayah dari orang yang di ejek. Seperti menjelek-jelekkan nama ayah seseorang, mereka menyebut namanya dengan benar tetapi dengan nada yang tidak pantas ditambah dengan ejekan atas pekerjaannya.

aku berpikir bahwa itu mungkin akan membuatnya marah kalau aku mulai mengejeknya dengan nama ayahnya saja. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap orang tua, tidak ada niatan dariku untuk mengejek pekerjaan orang lain.

Melihat kondisi pemimpin gengnya sendiripun punya keterbatasan ekonomi dan lainnya. Mungkin itulah salah satu faktor mengapa wataknya menjadi seperti itu.

Aku kesal sekaligus prihatin terhadapnya, tetapi harus diapakan lagi. Dia bahkan tidak berusaha untuk menjadi yang terbaik. Sehingga aku berpikir mungkin ini akan sedikit merubah cara pandangnya terhadap dunia.

pembalasan dimulai, aku mulai mencari-cari nama dari ayahnya dari beberapa temanku yang memang dekat dengannya dan orang tuanya punya relasi dengan ayah si pemimpin geng itu.

sesaat setelah menemukannya aku mulai mencari cara bagaimana agar ini lebih efektif. Ternyata anak-anak lain akan merasa terganggu kalau banyak orang yang mengetahui nama orang tuanya.

Membentuk aliansi

Banyak orang yang tidak menyukai sifat dan karakternya yang buruk, tapi bukan berarti dia tidak pantas untuk di ajak bermain. Semua orang punya karakter masing-masing dan tergantung bagaimana lingkungan mendidiknya.

Aku mulai memberanikan diriku untuk menyebutkan nama orang tuanya sekali-kali, dan beberapa temanku yang juga setuju dengan hal itu mulai bercanda denganku dan terkadang menyinggung nama orang tuanya.

Karena nama orang tuanya mirip dengan lagu dalam sebuah permainan dan nama dari tokoh film, aku dan kawanku mulai mengejeknya dengan berpura-pura bermain permainan yang ada nama ayahnya di dalamnya.

hasilnya dia sangat marah dan terkejut ketika mendengar itu, dan hampir saja memukul kami di kelas. Untung masih ada guru waktu itu yang masih bersantai memeriksa tugas kami selagi kami istirahat.

Dikhianati

Beberapa hari kemudian aku melihat teman-teman yang kemarin mendukungku malah berpihak kembali kepadanya. Alasannya karena takut akan dipukul olehnya dan diejek selamanya.

sebelumnya kami berjanji untuk melawannya karena dia dan kawan-kawannya ingin menghajar kami. Dan pada akhirnya teman-temanku mengkhianatiku dan bergabung bersama mereka.

Bukan kesalahan mereka karena ketakutan. Hanya saja itu cukup menyakitkan melihat orang yang kau percayai mengkhianatimu.

Akhirnya aku bertarung sendirian dan kalah.

Hikmah dibalik kekalahan

Setelah kekalahanku, aku mulai bangkit kembali dan menghiraukan apa yang telah terjadi sebelumnya. aku mencoba untuk berteman dengan kubuh anak itu dengan melakukan hal yang sama dengan anak-anak lain lakukan.

menyogoknya dengan uang sakuku, itulah yang kulakukan demi menghindari pertarungan lagi dengannya. Setelah itu aku menghiraukan dia, dan memulai kembali pertemananku bersama teman karibku.

sampai sekarang kami tetap prihatin dengan anak itu, bahkan keadaannya sekarang lebih buruk dibandingkan saat kami SD. sedangkan kami masih sering bersilaturahmi satu sama lain.

 

terima kasih telah menyempatkan waktu anda untuk membaca ceritaku. Semoga ada pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil dari sini. Jangan lupa ikuti lanjutan kisahnya hanya di cobalagiaja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: